Penulis: Wina Melani Saputri
Senin,
22 September 2025 — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Indramayu
bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITPB Balongan menggelar Aksi Simbolik
September Hitam di Tugu Perjuangan Indramayu. Aksi ini diikuti oleh mahasiswa
yang berkumpul sebagai bentuk penegasan bahwa generasi muda menolak untuk
melupakan berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di negeri
ini, serta praktik penyalahgunaan kekuasaan.
Bulan
September disebut sebagai September hitam karena banyak tragedi kemanusiaan
terjadi pada bulan ini. Tragedi kelam yang melibatkan oknum pemerintah dalam
pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjadikan Masyarakat menolak lupa terhadap
kasus-kasus yang meningggalkan duka mendalam.
Berbagai
peristiwa kelam tercatat dalam sejarah Indonesia, di antaranya pada 30
September 1965 bangsa ini diguncang oleh peristiwa Gerakan 30 September (G30S).
Pada 12 September 1984 terjadi Tragedi Tanjung Priok yang meninggalkan luka
mendalam dalam sejarah pelanggaran hak asasi manusia. Sementara itu, pada
September 1999, kerusuhan Ambon pecah dan memicu konflik berkepanjangan yang
memecah persaudaraan serta merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Rangkaian
peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia.
Melalui
aksi ini, mahasiswa menyampaikan harapan agar masyarakat tetap mengingat
peristiwa-peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah bangsa. Salah satu
peserta aksi menyampaikan bahwa peristiwa pelanggaran HAM dan penyalah gunaan
kekuasaan di masa lalu perlu mendapat
perhatian agar dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, penyelesaian
terhadap kasus-kasus tersebut dinilai penting agar tidak kembali menimbulkan
persoalan serupa di masa mendatang.
Aksi
berlangsung dengan tertib dan menjadi bagian dari kegiatan mahasiswa dalam
menyampaikan aspirasi di ruang publik.
